Thursday

Dandim Aceh Barat Daya Tanam Padi di Geunang Jaya

BLANGPIDIE - Dandim 0110 Aceh Barat Daya (Abdya), Letkol Inf Suhartono, melaksanakan tanam padi di areal sawah Geunang Jaya, Desa Persiapan Rukon Damee, Senin (12/1). Kegiatan kerjasama Kodim 0110 dengan Dinas Pertanian dan Peternakan setempat itu merupakan upaya meningkatkan ketahanan pangan.

Padi yang ditanam merupakan varietas legowo 21 yang dikembangkan Kelompok Tani Beringin Indah beranggotakan 50 orang, dengan luas areal sawah puluhan hektare. Kelompok tani ini dibina Danramil Babahrot, Kapten lnf lzhar, termasuk Kepala Balai Penyuluhan Pertanian, Peternakan Kecamatan (BP3K) Babahrot, Mustafa.

Letkol Inf Suhartono, dalam acara tersebut menjelaskan, penanaman perdana padi tersebut sebagai dukungan TM terhadap program ketahanan pangan nasional. "Untuk memaksimalkan program ini, Kodim Abdya telah menurunkan personel anggota Korarnil 07/Babahrot untuk membantu masyarakat dalam menyukseskan program tanam padi dalam rangka ketahanan pangan. kami juga meminta partisipasi para penyuluh pertanian dalam membimbing petani agar pengetahuannya semakin meningkat. Sehingga mampu menambah produksi dan meningkatkan kesejahteraan petani, " ujarnya.

Panen Raya

Sementara itu, Kelompok Tani Telaga Biru, Desa Suka Makrnur Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, menggelar panen raya di atas lahan seluas sepuluh hektare, pada Selasa (13/1). Panen raya padi milik kelompok hasil binaan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Subulussalam itu dihadiri Wakil Wali Kota Subulussalam, Salmaza, Wakil Ketua DPRK, Fajri Munthe, Kasdim 0101 Mayor Inf Tri Joko P, serta sejumlah pejabat lainnya.

"Kelompok Tani Telaga Biru, telah berubah status menjadi Pusat Pelatihan, Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S). Jadi kelompok tani ini akan menjadi tempat pelatihan bagi para petani lain," jelas Ketua KTNA Kota Subulussalam, Abdul Hamid Padang.

Panen raya itu juga dihadiri Ketua KTNA Provinsi Aceh, Zakaria Affan Takar - ia mengatakan, sebagai bentuk apresiasi KTNA Provinsi, P4S Telaga Biru Subulussalam akan menjadi lokasi kegiatan magang para perwakilan petani se Indonesia pada rangkaian Pekan Nasional (Penas) ke 15 KTNA yang digelar 6-11 Mei 2017 mendatang.


"Tahun 2017 mendatang, Aceh menjadi tuan rumah Penas ke 15 yang akan dihadiri 50 ribuan unsur petani nelayan se-Indonesia, termasuk perwakilan negara Asean. Jadi, Kelompok Tani Telaga Biru ini menjadi salah satu lokasi kegiatan magang para perwakilan petani," ujar Affan.

GeRAK Pantau Kepala Bappeda Lowong

MEULABOH - Gerakan Anti korupsi (GeRAK) Aceh Barat, menyorot kinerja Bupati Aceh Barat yang sudah beberapa bulan terakhir masih membiarkan jabatan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) setempat, lowong. Sedangkan pejabat lama, H T Ahmad Dadek sudah dimutasi menjadi Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setdakab. Sehingga jabatan ditinggalkan masih dijabat oleh pejabat lama. "Rangkap jaba.tan ini tentunya akan mengganggu program pembangunan," ujar Koordinator GeRAK Aceh Barat, Baharuddin Bahari, Rabu (14/1).

Menurutnya, penetapan pejabat rangkap jabatan ini tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 100/2000 tentang pengangkatan pegawai negeri sipil dalam jabatan struktural, sebagaimana diubah dengan PP Nomor 13/2002. PP tersebut secara tegas melarang adanya rangkap jabatan, baik antara jabatan struktural dengan jabatan struktural, maupun antara jabatan struktural dengan jabatan fungsional. "Pelarangan ini dimaksudkan untuk optimalisasi, disiplin, akuntabilitas pejabat struktural serta menyadari akan keterbatasan manusia sebagaimana tercantum pada pasal 8 dan penjelasanrrya," ujamya.


Karena itu, GeRAK mendesak Bupati Aceh Barat segera mengisijabatan kepala Bappeda yang masih lowong. Penempatan pejabat definitif yang kredibel, menjadi penting dilakukan agar perencanaan pembangunan daerah yang menjadi tugas pokok Bappeda dapat berjalan maksimal.

Jembatan Rusak Belum diperbaiki

BIREUEN – Dua jembatan gantung dan satu jembatan Permanen di dua kecamatan di Bireuen yang rusak parah sejak dua tahun lalu hingga kini belum diperbaiki. Jembatan gantung yang rusak berada di Desa Pante Peusangan dan Desa Krueng Simpo, Kecamatan Juli. Sedangkan satu jembatan permanen yang rusak berada di Desa leubu Mesjid, Kecamatan Makmur Warga berharap Jembatan itu segera diperbaiki oleh pihak terkait.

"Lantai jembatan di desa kami sudah banyak yang rusak dan keropos, Jembatan itu pemah diperbaiki tahun 2012 la1u, tapi sekarang sudah rusak lagi” kata Syamsuddin, Keuchik Pante Peusangan kepada aceh-gayo.blogspot.com. kemarin. Secara terpisah, Zulkarnaen, warga Desa Krueng Simpo menjelaskan, lantai jembatan gantung di desanya rusak parah dan kabel pengikatnya sudah putus. "Pengendara bila tak hati-hati akan terperosok ke lantai jembatan itu," ungkapnya.

Sementara itu, satu jembatan permanen ukuran 20 x 4 meter di Desa kubu Mesjid, Makmur juga rusak karena bagian bawah kedua tiang penyangganya sudah longsor akibat hujan deras. Jembatan tersebut dibangun dengan dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) 2003. Untuk Perbaikan harus dipasang beronjong pada bagian bawah Jembatan agar tiangnya tidak ambruk dikikis air," ujar Sekdes kubu Mesjid, Ismalinur, kemarin.


Kadis Bina Marga Cipta Karya dan Perumahan Rakyat (BMC-PR) Bireuen, Fadli ST, kemarin, mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan menurunkan tim ke lokasi jembatan gantung dan jembatan Permanen yang rusak tersebut. “Tujuannya, untuk memastikan tingkat kerusakan dan penanganan darurat untuk memudahkan warga melakukan aktivitas," ujamya.

Perampok Toke Sawit Ke Meja Hijau

LHOKSEUMAWE - Penyidik Polres Lhokseumawe, Rabu (14/1) sore, menyerahkan Budiono (40). warga Medan, Sumatera Utara yang menjadi tersangka kasus perampokan toke sawit ke Ke Jaksaan Negeri (Kajari) Lhokseumawe.

Seperti diberitakan sebelumnya, Budiono diangkap warga di kawasan Cunda Lhokseumawe seusai merampok tas berisikan uang Rp 5 juta dari dalam mobil Qurthubi (38), toke kelapa sawit asal Cot Girek, Aceh Utara, Rabu, 26 November 2014. Tas berisikan uang tersebut dirampas tersangka saat korban mengganti Utara Muban mobilnya yang bocor. Sedangkan kawan tersangka berhasil kabur menggunakan sepeda motor yang mereka kendarai.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Cahyo Hutomo melalui Kasat Reskrirn AKP, Decky Hendra Wijaya, menjelaskan, sekitar satu pekan lalu Jaksa menginformasikan bahwa berkas Budiono sudah lengkap. "Jadi, hasil koordinasi lanjutan, tersangka beserta barang bukti kita serahkan ke jaksa hari ini," ujar AKP Decky, kemarin.

Barang bukti yang diserahkan kepada jaksa, sebutnya, berupa uang Rp 5 juta hasil perampokan, tas tempat uang itu ditaruh, dan satu lembar BPKB sepeda motor yang digunakan tersangka saat melakukan aksinya. "Dalam berkas perld.ra juga berisikan keterangan empat saksi yaitu saksi korban serta tiga warga yang melihat dan ikut menangkap tersangka," ujarnya.

Ditambahkan, dalam kasus itu pihaknya masih menetapkan seorang DPO yakni kawan tersangka. Ia berhasil kabur bersama sepeda motor mereka. Berdasarkan informasi didapat. Kawan tersangka juga warga Medan.

Wednesday

Disperindag Aceh Bagikan Mesin Pengolah Batu Giok

BANDA ACEH - Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh menyerahkan delapan mesin atau peralatan pengolahan batu mulia (batu giok) kepada para pengrajin batu di Aceh.

Kepala Disperindag Aceh, Safwan. kepada Aceh-gayo.blogspot.com Selasa (6/1) mengatakan, mesin itu merupakan bantuan dari Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia dan diberikan kepada delapan pengrajin batu yang telah mengikuti pelatihan pengolahan batu di Jakarta. September lalu. "Mesin itu melalui Disperindag Aceh kita berikan kepada delapan pengrajin batu yang tersebar di Aceh, terdiri atas mesin pemotong plus asah, bor duduk, gerinda duduk dan satu set grinder foredom drill," sebut Safwan.


Ia menambahkan. mesin itu diberikan masing-masing kepada Rizal di Banda Aceh, Saifuddin di Meuraxa, muharli di Bireuen, Ridwan Saleh di Kecamatan Karang Baru, Rasyidin Baskay di Gayo Lues, Suar Ulian di Kutacane, dan Adi Hermanto di Nagan Raya. "Kami berharap bantuan itu dapat dimanfaatkan dengan baik oleh penerima dan menjadi asset bagi mereka untuk meningkatkan perekonornian keluarga dengan itu juga telah mendorong perturnbuhan perekonomian Aceh," tandas Safwan.

Penerima Beasiswa Diminta Ganti Rekening

BIREUEN - Mahasiswa penerima beasiswa dari Pemkab Bireuen yang beberapa waktu lalu melampirkan nomor rekening Bank BRI dan Bank Mandiri diminta untuk mengganti ke rekening Bank Aceh. Hal itu untuk memudahkan penerima melakukan penarikan beasiswa tersebut dan tak dikenakan biaya. Sebab, beasiswa tersebut semuanya sudah ditransfer ke Bank Aceh.

"Sesuai aturan, pengiriman uang antar bank dikenakan biaya kliring. Agar biaya kliring tak dipotong dari beasiswa itu, karni minta semua penerima beasiswa yang dulu menyerahkan rekening Bank BRI dan Bank Mandiri agar segera mengganti ke rekening Bank Aceh. Sebab, semua beasiswa tersebut ditransfer ke Bank Aceh." Jelas Sekretaris Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah (DPKKD) Bireuen, Mulyadi kepada Aceh-gayo.blogspot.com. Selasa (6/1).

Hal itu disampaikannya terkait keluhan dari sejumlah penerima beasiswa yang melampirkan rekening Bank BRI dan Bank Mandiri hingga kini uangnya belum masuk ke rekening mereka. "Kami juga menerima laporan seperti itu. Sedangkan mahasiswa yang melampirkan rekening Bank Aceh, semuanya sudah menerima beasiswa tersebut. Mahasiswa yang sudah mengganti nomor rekening agar menyerahkan foto kopinya ke Bagian Kesra Sekdakab Bireuen untuk dapat segera diproses," harap Mulyadi.


Ditanya mengapa pihaknya tak mengantisipasi dari awal agar proses pengiriman beasiswa itu tidak terlambat karena masalah tersbbut, Mulyadi mengatakan, awalnya Pemkab berharap transfer berjalan lancar, tapi ternyata memerlukan biaya tambahan. Setelah mendapat informasi dari bank, pengiriman uang ditunda sementara dari pada bermasalah saat penerima mengetahui beasiswa yang mereka terima tidak lagi sampai Rp l juta karena sudah dipotong biaya kliring. "Kalau waktu beasiswa itu ditarik jumlahnya tidak sampai satu juta rupiah bisa muncul masalah lagi. Karena itulah kita minta penerima beasiswa menggantikan nomor rekening," pungkasnya.

Dharma Wanita Bireuen Peringati HUT

BIREUEN – Kaum ibu di jajaran Pemkab Bireuen, Selasa (6/1) memperingati HUT Ke-15 Darma Wanita Persatuan (DWP) Bireuen di aula lama Sekdakab Bireuen. Ketua Panitia, Harlini SPd mengatakan, DWP Bireuen selama 2014 melaksanakan berbagai kegiatan pengembangan kaum ibu.

Di antaranya seminar sehari tentang peran kaum ibu, lomba peragaan pakaian nasional, penyerahan kain sarung kepada anak yatim, pemberian paket sekolah kepada puluhan murid dari PNS golongan II, pelatihan membuat tas, bros, dan lainnya kepada puluhan kaum ibu, lomba membuat kue meuseukat, dan lomba memasak. Ketua DWP Bireuen, Hj Deviana dalam acara yang dibuka Bupati Bireuen, H Ruslan M Daud itu menyampaikan sejumlah gagasan dan rencana kerja terkait pengembangan kaum ibu di lingkungan Pemkab setempat.

Petani Tambak Butuh Bantuan Segera

LHOKSEUMAWE - Petani tambak di Lhokseumawe merugi akibat tranjir beberapa waktu lalu. Akibatnya, sampai saat ini mereka belum menyemai benih ikan baru karena tak ada modal. Karena itu, mereka berharap Pemko setempat mencari solusi r-rntuk masalah tersebut dengan menyediakan benih bantuan.


Yuswar, petani tambak asal Desa Alue Awe, Kecamatan Muara Dua, kepada Aceh-gayo.blogspot.com, Selasa (6/1), mengatakan ia dan petani lain merugi akibat banjir yang melanda tambak mereka, sehingga ikan-ikan dalam tambak hilang dibawa air. "Kita belum beraktivitas kembali karena tak ada modal dan benih," ujar Yuswar. Ungkapan hampir sama juga disampaikan Rarnji, petani tarnbak asal Desa Blang Panyang, Kecamatan Muara Satu. Ia berharap Pemko Lhokseumawe memperhatikan kondisi yang dialarni petani tambak tersebut

Pengangkut Pupuk Bersubsidi Jadi Tersangka

LHOKSUKON - Polres Aceh Utara, Selasa (6/1) menetapkan Isk, sopir mobil Carry BL 8471 KI yang mengangkut 1,5 ton pupuk bersubsidi dari Banda Aceh ke Aceh Timur sebagai tersangka. Isk yang tercatat sebagai warga Tanah Jambo Aye, Aceh Utara itu ditetapkan sebagai karena dalam penyelidikan diketahui bahwa yang bertanggungjawab dalam penyelundupan pupuk tersebut adalah Isk.

Untuk diketahui, mobil beserta pupuk 1,5 ton itu ditangkap polisi pada 13 Desember 2014 di kawasan Desa Trieng Pantang. Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara. "Isk dijadikan tersangka karena dia adalah pembeli sekaligus pengangkut pupuk bersubsidi itu," ujar Kapolres Aceh Utara. AKBP Gatot Sujono melalui Kasat Reskrim, AKP Mahliadi kepada Serambi, kemarin.

Ditanya apakah ada tersangka lain dalam kasus itu, Kasat Reskrim menyebutkan, pihaknya terus mengembangkan kasus tersebut dengan memdriksa sejurirlah saksi. Saksi yang sudah diperiksa, sebutnya, dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh Utara,.staf pemasaran PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), perwakilan Petrokimia Gresik di Lhokseumawe, serta pegawai Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Aceh Utara.


'Tidak tertutup kemungkinan ada tersangka lain, tapi masih perlu penyelidikan lanjutan. Dalam waktu dekat kita akan panggjl saksi dari distributor dan pengecer tempat tersangka membeli pupuk itu kata AKP Mahfiadi. Untuk sementara. tambahnya, tersangka tidak ditahan karena sudah ada jaminan.

Penikam Polisi Terancam Hukuman 15 Tahun Penjara

LHOKSUKON –Abdul Kadir alias Khaidt (36) pria asal Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pencurian kelapa sawit dan penggelapan mobil terancam hukuman l5 tahun penjara. Pasalnya, ia juga terlibat dalam penikaman ketika polisi hendak menangkapnya di kawasan Matang Panyang, Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara, 28 Desember 2014.

Untuk diketahui, Khaidir menikam Brigadir Herzal, Kepala Unit (Kanit) Reskrim Polsek Cot Girek dengan rencong di lengan kanan ketika hendak menangkapnya saat ia bersembunyi dalam sebuah rumah warga. Akibat kejadian itu, Brigadir Herizal harus dioperasi di Rumah Sakit Kesrem Lhokseumawe.

"Tersangka dijerat Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1952 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Kasus penikaman. pencurian, dan penggelapan mobil yang dilakukan tersangka kita proses dalam satu berkas," ujar Kapolres Aceh Utara. AKBP Gatot Sujono melalui Kasat Reskrim, AKP Mahliadi kepada Aceh-gayo.blogspot.com, Selasa (6/1).

Dijelaskan, penggelapan mobil itu terjadi dua bulan sebelumnya. Tersangka setelah merental mobil milik Samsul, warga Desa Rawang Itek, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, ia membawa kabur dan kemudian digunakan untuk mencuri kelapa sawit. "Sampai sekarang dia masih ditahan di Mapolres untuk penyidikan lebih lanjut. Penyidik sudah mulai merampungkan berkasnya dan kemungkinan dalam walrtu dekat sudah bisa dilimpahkan ke jaksa," ungkapnya.

Sedangkan empat pria lain yang ditangkap warga saat hendak mencuri tandan buah segar kelapa sawit, lanjut Mahliadi, sudah dibebaskan dan mereka dimintai keterangan sebagai saksi dalam kasus pencurian. Keempat warga itu adalah Saidina Umar (19) dan Rustam (19), warga Desa Lubok Tilam Cot Girek, Utara serta Hamadi (23), warga Desa Lhok Kuyun Kecamatan Sawang, Aceh Utara dan Marzuki (23), pemuda asal Desa Blang, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara.


"Ke empat pemuda itu di ajak tersangka Khaidir untuk mencuri sawit menggunakan mobil yang direntalnya. Padahal, ke empat pemuda itu awalnya tak tahu kalau mereka di ajak untuk mencuri sawit" pungkas Kasat Reskrim.

Tuesday

PDPA Butuh Modal Kata TB Herman

BANDA ACEH – Direktur Administrasi dan Keuangan perusahaan Daerah Pemerintah Aceh (PDPA), TB Herman SE MM mengatakan perusahaan tersebut sangat membutuhkan suntikan modal segar dari Pemerintah Aceh supaya posisi keuangan PDPA bias positif. Menurutnya, apabila Pernerintah Aceh tidak menyetujui penyertaan modal untuk PDPA, diyakini perusahaan daerah itu akan mati. "Kalau dilihat dari posisi keuangan neraca dan laba rugi PDPA per 2013, PDPA memang tidak layak lagi dilanjutkan. Karena itu; dalam rapat dengan pemegang saham kami sudah pernah mengusulkan agar PDPA dipailit. Tapi tidak bisa dilakukan karena PDPA sudah melakukan kontrak kerjasama dengan perusahaan luar negari," katanya.

TB Herman menyampaikan hal ini menanggapi Koordinator GeRAK Aceh Askhatani yang mengklaim PDPA adalah sebuah 'perusahaan gagal', seperti diberitakan Aceh-gayo.blogspot.com, Jumat (2/1) Askhalani mengklaim PDPA belum pemah memberikan dampak apapun untuk penerimaan pendapatan daerah sejak berdiri. Padahal, tambahnya, jika dihitung-hitung penyertaan modal awal sebesar Rp 5.150.000.000 dan ditambahkan dengan alokasi APBA tahun 2015 sebesar Rp 25 miliar, maka total anggaran yang akan dikelola PDPA mencapai Rp 30 miliar lebih. "Berdasarkan fakta tersebut, maka anggaran untuk PDPA sebagaimana usulan dalam KUA-PPAS 2015 tidak dapat dianggarkan, sebelum ada pembenahan dan pertanggungjawaban atas anggaran sebelumnya, yang belum dapat diyakini kewajaran pertanggungjawababnya sebagaimana temuan atas hasil audit BPK-RI," katanya.

Terkait hal itu, TB Herman meminta GeRAK Aceh untuk mengadakan survei terlebih dahulu sebelum menyampaikan kritikan, sehingga analisa dan pendapat yang disampalkan kepada masyarakat tidak bisa. "Pada prinsipnya kami tidak alergi terhadap kritikan, tapi harus didukung oleh data ada. Sehingga tidak menimbulkan fitnah terhadap lembaga yang dikritik," uajrnya. la menjelaskan, mengenai modal yang telah disetor sebesar Rp 5.150.000.000 tidak bisa digabungkan dengan modal yang diusulkan dalam KUA PPAS 2015 Rp 25 miliar. Sebab, katanya, modal yang disetor sebesar Rp 5. 1 50.000.000 dilakukan secara bertahap dalam tujuh kali setorang sejak 1994-2003. "Setoran modal terakhir tahun 2003 pada saat Direktur PDPA dijabat oleh Firmandez sebesar Rp 1.5 miliar.

Pada saat direksi baru diangkat pada Oktober 2012,  saldo kas kami terima nihil, dengan saldo bank sebesar Rp 1.100.000. Artinya, selama PDPA dijabat oleh direksi baru belum pernah menerima tambahan modal maupun bantuan lainnya dari Pemerintah Aceh," jelasnya. Namun demikian, ia setuju jika dikatakan PDPA sebagai perusahaan gagal. Sebab, kata Herman, sejak perusahaan itu berdiri pada 1994 hingga 2012 PDPA belum berhasil menyetorkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). "Hal ini karena modal yang diberikan pemerintah Aceh tidak sekaligus, tetapi bertahap hanya cukup untuk biaya operasional perusahaan," demikian TB Herman.