Showing posts with label Singkil. Show all posts
Showing posts with label Singkil. Show all posts

Saturday

PNS Malas Tak Dibayarkan TC

SINGKIL - Pemberian uang tunjangan prestasi kerja (TPK) atau lebih dikenal uang TC kepada PNS di Kabupaten Aceh Singkil, hanya berdasarkan absen kehadiran, ternyata menimbulkan kecemburuan bagi PNS yang rajin. Karena itu, mereka meminta Pemkab untuk membayar TPK kepada PNS yang rajin saja atau berkinerja alias tak membayar tunjangan ini kepada PNS malas. "Kami kadang iri, PNS yang hanya tanda tangan absen dapat TC nilainya sama dengan kami yang bekerja rajin.

Seharusnya TC ini menjadi penghargaan bagi rajin saja, jangan disama rata. Tujuannya demi kebaikan daerah, PNS akan rajin bekerja dengan harapan mendapatkan pengharagaan berupa tunjangan prestasi kerja," kata seorang PNS di lingkup Pemkab Aceh Singkil yang tak bersedia ditulis kepada Acceh-gayo.blogspot.com Jumat (29/5).

Terapkan e-kinerja Sekda Aceh Singkil, Drs Azmi mengatakan pihaknya sedang berupaya menerapkan sitem e-kinerja (kerja elektronik). Sehingga tidak hanya pimpinan yang bisa mengukur capaian kinerja PNS, tetapi seluruh rakyat dapat memantau. "Memang harus diakui sebagai kelemahan, TC masih diberikan berdasarkan absen. Mengatasinya sesuai perintah Pak Bupati, kami sedang berupaya menerapkan sistem e-kinerja." Kata Azmi ketika dikonfirmasi Acceh-gayo.blogspot.com kemarin.


Menurut Azmi, dalam waktu dekat ini pihaknya akan memerintahkan seluruh satuan perangkat kerja kabupaten (SKPK) supaya meminta laporan kerja harian staf. Selanjutnya laporan dimaksud diserahkan ke pihaknya untuk dinilai, siapayang telah bekerja sesuai target dan melebihi akan mendapat penghargaan. "Saya sudah perintahkan para Asisten meminta kepala dinas di bawah koordinasinya melaporkan target kinerja. Dari tiga asisten, baru asisten III yang melaporkan dua lagi saya minta segera melaporkan," jelas Sekda.


Tunjangan prestasi kerja atau TC diberikan kepada PNS sesuai kemampuan keuangan daerah. Berdasarkan besaran pendapatan asli daerah (PAD). Jika rata-rata seorang PNS mendapatkan TC setiap bulan Rp 500 ribu dikali jumlah PNS di Kabupaten AcehSingkil 3.000 orang. Maka, uang yang dikeluarkan untuk TPK, meski belum tentu PNS itu berkinerja jumlahnya itu mencapai Rp 1,5 miliar setiap bulan.

Thursday

Desakan Warga Singkil Desak Tutup PT Ensam

SINGKIL - Warga yang tinggal di bantaran sungai Cinendang, Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil, Selasa (12/5) berunjuk rasa ke Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) setempat, di Kampung Baru, Singkil Utara.

Mereka menuntut Pemkab Aceh Singkil menutup pabrik kelapa sawit PT Ensem Lestari, lantaran dituding telah mencemari sungai. "Air sungai tempat kami mandi, mencuci dan mengambil air minum tak bisa lagi digunakan karena tercemar limbah PT Ensem." Kata Alex, dalam orasinya.

Menurut warga, selain mencemari sungai, asap pabrik yang terletak di Simpang Kanan itu, juga menyebabkan polusi udara. Persoalan lain yang diprotes warga, terkait prilaku perusahaan yang dinilai diskriminatif dalam pembelian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.


Menurut warga, sawit milik petani setempat dihargai lebih murah dibanding TBS yang dibeli dari luar Singkil. Mukaribin, pengunjuk rasa juga mengatakan, kehadiran PT Ensem di wilayah mereka membuat warga yang menggantungkan hidup dengan mencari ikan di sungai Cinendang, kehilangan mata pencaharian. "Sebelumnya warga mudah mendapatkan ikan di sungai.


Tapi sejak tercemar limbah, ikan sulit didapat. Kami minta pemerintah menutup sementara PT Ensem," tandasnya. Perwakilan pengunjuk rasa yang berasal dari tujuh desa pinggiran sungai, berdialog dengan Ketua DPRK Mulyadi, Sumarso dan Yulihardin Wakil Ketua. Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu, turut dihadiri anggota DPRK seperti Mairaya, Pahrijat, Al Hidayat, Tamiruddin dan lainnya, dengan pengawalan polisi.

Monday

Pendaftar Peserta Sepeda/Jalan santai Capai 1.000 Orang

SINGKIL - Pendaftar jalan santai dan sepeda santai memeriahkan hari ulang tahun (HUT) ke-16 Kabupaten Aceh Singkil, hingga Minggu (26/4) sudah mencapai seribu orang. Namun saat ini panitia masih menyediakan kupon agar peserta yang belum mendaftar hingga kemarin, masih bisa mendapat kupon doorprize.

Mengingat event hasil kerjasama Harian Aceh-gayo.blogspot.com Indonesia dengan Pemkab Aceh Singkil tersebut, waktu pendaftarannya tinggal enam hari lagi. Waktu pendaftaran akan ditutup 2 April mendatang," kata Dede, Ketua Panitia Sepeda Santai dan Jalan Santai HUT ke- 16 Aceh Singkil. Peserta yang sudah mendaftar, mayoritas merupakan pelajar, mulai dari SD, SMP dan SMA.


Mereka sangat antusias karena mendapat dukungan dari Kepala Dinas Pendidikan Aceh Singkil, Yusfit Helami yang menyarankan pelajar mengikuti olah raga jalan santai atau sepeda santai ini.


Sementara itu, panitia menargetkan peserta jalan santai dan sepeda santai ini diikuti 3.000 peserta. Kegiatan ini dilaksanakan 3 Mei mendatang, dengan mengambil start dan finish di stadion (GOR) Kasim Tagok, Ketapang Indah, Singkil Utara. Sedangkan doorprize utama bempa satu unit sepeda motor.

Warga Singkil Di Operasi Katarak Gratis

SINGKIL - Seratus lebih warga paruh baya, mengantre mendapatkan pelayanan gratis untuk penyakit katarak yang rnereka derita, pada Sabtu (25/4) di halaman RSUD Aceh Singkil. Operasi katarak tersebut dibiayai Baitul Mal Aceh Singkil sebagai bentuk kepedulian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat untuk warga penderita katarak yang jumlahnya cukup banyak di daerah ini.

"Saya ingin semua warga Aceh Singkil yang terganggu penglihatannya bisa disembuhkan. Karena itu kami melaksanakan operasi katarak gratis," kata Bupati Aceh Singkil, Safriadi, saat memberi pengarahan sebelum dilakukannya operasi katarak yang bekerja sama dengan Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Cabang Sumatera Utara. Safriadi mengatakan, gangguan penglihatan sangat menyakitkan.



Ia mengaku punya pengalaman ketika mengalami kecelakaan 14 tahun silam, dimana matanya harus tertutup perban untuk waktu lama. "Begitu perban dibuka, saya sangat bersyukur bisa melihat kembali. Karena itu saya berkomitmen membantu warga melakukan operasi katarak gratis, agar tidak mengalami gangguan penglihatannya,” ujarnya.

Wednesday

Populasi Buaya Singkil Meningkat

PENGAKUAN warga di Kecamatan Siti Ambia, jumlah buaya di Sungai Singkil terus bertambah, dan sering terlihat anak buaya memasuki permukiman warga. Meningkatnya konflik manusia dengan buaya di daerah itu, disinyalir akibat terus menyempitnya habitat buaya, sementara populasinya terus meningkat.

Dalam tiga bulan terakhir, tercatat dua warga Kecamatan Singkil, hilang saat mencari lokan yang biasanya dilakukan dengan cara penyelaman ke dasar sungai. Hingga saat ini, jasad Arisman tak ditemukan. Namun warga meyakini, korban telah dimangsa buaya. Karena lokasi pencarian lokan itu dikenal sebagai lokasi tempat bersarangnya buaya. Sedangkan peristiwa terbaru, terjadi Minggu (29/3) sore dengan korban bernama Yusril.


Beberapa warga memastikan Yusril telah dimangsa buaya, karena sempat melihat empat ekor buaya mencabik-cabik tubuh manusia yang diduga kuat merupakan tubuh Yusril. Dengan adanya peristiwa tersebut, warga pun berniat memburu buaya di sungai itu untuk dimusnahkan agar tidak mengancam jiwa warga lainnya yang sering mencari lokan di dasar Sungai Singkil.

BKSDA Bersama Warga Akan Tangkap Buaya Pemangsa

SINGKIL - Warga Kecamatan Siti Ambia, Kabupaten Aceh Singkil saat ini mulai bersiap untuk memburu buaya yang telah memangsa pencari lokan bernama Yusril, pada Minggu (29/3) sore.

Tokoh pemuda Aceh Singkil, Mansurdin mengatakan, keluarga korban bersama warga sudah tidak sabar dengan meningkatnya ancaman buaya liar di muara Sungai Singkil yang sudah memangsa warga pencari lokan di daerah itu. "Kesabaran warga sudah habis. Kalau tidak ada respon dari pemerintah dalam waktu dekat, warga sendiri yang akan membunuh buaya tersebut," kata Mansurdin.

Ia menegaskan, hampir seluruh warga yang tinggal di pinggir Sungai Singkil itu menggantungkan hidup dari mencari lokan. "Kami menggantunglan hidup dari mencari lokan. Kalau tempat mencari nafkah kami terganggu, maka kami harus mengambil tindakan. " ujarnya.

Menanggapi hal ini, Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor 10 Rawa Singkil, Sufino mengatakan bahwa pihaknya sudah melaporkan kejadian tewasnya warga akibat dimangsa buaya di daerah itu, kepada atasannya.

Pihak BKSDA pun sepakat menurunkan tim untuk mengatasi gangguan buaya tersebut. "Kami sudah lapor ke BKSDA Aceh dan tim yang diturunkan untuk menangkap buaya itu sedang dalam perjalanan ke Singkil, dengan membawa serta perangkap khusus buaya," kata Sutino.


Sutino juga mengaku sudah berkoordinasi dengan Pemkab Aceh Singkil upaya penangkapan buaya tersebut. "Kami sudah koordinasi dengan Sekda Aceh Singkil, dan beliau sepakat untuk menunggu tim dari BKSDA Provinsi Aceh yang akan melakukan penangkapan buaya itu," ujarnya.

Pencari Lokan Tewas di Terkam Buaya

SINGKIL – Seorang warga kecamatan Siti Ambia bernama Yusril kembali menjadi korban diterkam buaya saat mencari lokan di sekitar muara Sungai Singkil pada Minggu (29/3) sore. Hingga kemarin, upaya pencarian masih dilakukan.

Meskipun beberapa warga sempat menemukan anggota tubuh manusia di lokasi itu, namun belum dapat dipastikan apakah itu bagian tubuh korban atau bukan. Berdasarkan laporan warga, Yusril dipastikan telah dimakan buaya, karena beberapa warga sempat melihat empat ekor buaya yang sedang mencabik-cabik tubuh manusia yang diduga merupakan tubuh Yusril.

Yusri diterkam buaya saat mencari lokan bersama anak dan istrinya. Ia bertugas menyelam ke dasar sungai, sementara istri dan anaknya menunggu di atas sampan kecil. Warga yang melakukan pencarian berhasil menemukan bagian dalam perut korban. Sementara bagian tubuh lainnya masih dalam pencarian. "Saya melihat sendiri tubuh korban dicabik-cabik buaya. Beruntung perahu yang karni tumpangi tidak terbalik akibat serangan buaya tersebut," kata Sekdakab Aceh Singkil, Azmi, Senin (30/3) yang memimpin langsung upaya pencarian tubuh korban.


Azmi menyatakan akan berupaya mencegah jatuhnya korban lain, terutama terhadap warga pencari lokan di daerah itu. "Kami akan berupaya membuka lapangan kerja baru agar warga menghindari kegiatan mencari lokan di muara sungai tersebut. Sebab untuk memindahkan buaya dari lokasi itu.merupakan wewenang BKSDA," kata Azmi.

Sunday

Pencari Udang Minta Bantuan Bubu

SINGKIL - Para perempuan yang berprofesi sebagai pencari udang diAceh Singkil, meminta Pemkab setempat memberikan bantuan alat penangkap udang (bubu) utnuk membantu peningkatan ekonomi masyarakat di daerah itu

"Kami minta dibantu bubu untuk menangkap udang sungai. Sebab bubu yang kami miliki hanya 30 buah, dan dalam sehari hanya dapat 3 Kg udang. Jika kami memiliki bubu lebih banyak, pendatapan kami bisa lebih baik," kata Suryati (48) warga Gosong Telaga. Singkil Utara Sabtu (28/2).


Dengan keterbatasan peralatan yang ada, mereka hanya mendapat penghasilan rata-rata Rp 60 ribu/hari. Aktivitas menangkap udang itu pun harus dilakukan seharian. Dengan bermodalkan sampan dayung kecil, mereka menyusuri sungai memasang bubu pada pagi hari dan mengangkat satu per satu bubu tersebut pada sorenya. Udang hasil tangkapan itu dijual di pasar terdekat. Meski cukup diminati, namun udang yang tersedia hanya dalam jumlah kecil akibat minimnya alat tangkap yang dimiliki.

Saturday

Perusahaan Sawit Berikan Bantuan

SINGKIL - Perusahan perkebunan kelapa sarit PT Perkebrman Lembah Bhakti (PLB) memberikan bantuan pembangunan masjid di Kabupaten Aceh Singkil. Sumbangan ini salah satunya diberikan untuk Masjid Kampung Baru, Kecamatan Singkil Utara. Community Deuelopment Officer (CDO) VI PLB Hadi Sukoco menyerahkan bantuan berupa keramik dan sarana air bersih itu,  Jumat (20/2) diserahkan langsung.

"Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian perusahan dan penvaluran CSR," kata Staf Humas PT PLB, Jen Saifuddin kepada Aceh-gayo.blogspot.com kemarin. Selain keramik dan sarana air bersih, Jen perusahaan tersebut juga menyumbangkan kitab untuk madrasah guna membantu kelancaran proses belajar mengajar anak-anak di bidang keagamaan.

Bantuan lain diberikan PLB berupa pengeras suara ke mushala Al Ilmi di Desa Gosong Telaga Barat. Walau letaknya tidak berdekatan dengan perusahan, namun tetap mendapat bantuan. "Bantuan diutamakan kepada masyarakat di sekitar perusahaan. Ada juga yang jauh, namun masih diwilayah perusahan," ujar Jen.

Rp 300 Ribu Untuk Ganti Rugi Pelebaran Jalan Dua Jalur

SINGKIL - Nilai tertinggi ganti rugi lahan terkena penggusuran pembangunan jalan dua jalan di Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil Rp 300 ribu per meter persegi. Sedangkan nilai terendah Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu per meter. Hal itu menjadi salah satu poin kesepakatan warga yang lahanya terkena pelebaran jalan dua jalur dengan Pemkab Aceh Singkil, Kamis (12/2) sore.

"Ganti kerugian lahan Sianjo-anjo Meriah mulai titik nol sampai jembatan Rp 250 ribu per meter persegi. sedangkan jembatan ke surau At Taubah Rp l50 ribu. Selanjutnya dari surauAt-Taubah ke Simpang Empat Bazis sampai dengan Simpang Amal Kampung Tanah Bara Rp 300 ribu," kata Kabag Pemerintahan Azwir saat membacakan hasil musyawarah.

Sementara wilayah lain yang belum masuk dalam kesepakatan tersebut, besaran ganti ruginya akan dinilai tim independen. Kesepakatan lain dalam pertemuan antara warga dengan Bupati Aceh Singkil, Safriadi disaksikan Muspida, ganti rugi lahan dimulai satu meter dari bibir aspal. "Satu meter dari bibir aspal masyarakat menghibahkan tanahnya demi kepentingan umum," kata Ali Hasmi perwakilan warga. Poin kesepakatan lain yaitu, bangunan rumah masyarakat yang tidak dapat difungsikan akibat terkena dampak pembangunan jalan dua jalur akan diberikan ganti rugi.

Begitu juga dengan lahan bila setelah terkena pelebaran jalan tidak bisa difungsikan akan ditukar guling atau dibeli secara utuh. Selanjutnya tim independen akan menilai ulang harga ganti rugi bangunan yang sebelumnya dianggap tidak wajar. Terakhir biaya pemotongan sertifikat masyarakat yang terkena pelabaran jalan ditanggung Pemkab.


Kemudian sertifikatnya wajib dikembalikan pada warga empat bulan sejak di tangan BPN. Pembanguan jalan dua jalur di Gunung Meriah, dimulai 2014, namun tertunda sebab terkendala pembebasan lahan. Warga bahkan ada yang menggugat ke pengadilan. Setelah terbentuk kesepakatan, masyarakat berencana mencabut gugatan dan pembangunan bisa dimulai di lokasi yang telah dibebaskan.